Arsip

Archive for Agustus, 2009

Menangis Pelajaran Penting Dalam Islam

Agustus 30, 2009 7 komentar

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda,” Ada tujuh golongan manusia yang akan dilindungi oleh Allah di bawah rahmat-Nya pada hari di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah, yaitu :
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah
3. Laki-laki yang hatinya selalu terpaut kepada masjid
4. Dua orang laki-laki yang salinh mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah karena Allah
5. Laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan dan jelita, ia berkata,;Aku takut kepada Allah’
6. Lelaki yang memberi sedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
7. Lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan bersunyi diri sehingga berlinangan air matanya
(Hr. Bukhari dan Muslim)

Entah mengapa saya teringat kembali dengan perkataan salah satu penanggung jawab pelajar di Bandung beliau adalah Dosen di ITB namanya pak Iqbal. Nasehat ini beliau berikan ketika selesai pembacaan hayatus sahabat di malam Markaze Bandung yang sudah lama berlalu.

Beliau katakan bahwa Menangis merupakan salah satu pelajaran terpenting dalam islam, maka bagi diri kita semua luangkan waktu untuk menangis, kalau belum bisa belajar mulai dari sekarang, kalau belum bisa juga maka pura-puralah menangis.

Itulah nasehat yang ringkas namun sangat berkesan dalam hati saya, tetapi karena kesibukan dunia saya sering kali melupakannya. Ya benar karena kebodohan dan kerasnya hati saya sehingga saat ini untuk menangis saja susah. Padahal para nabi dan rasul dengan sahabat-sahabat mereka terdahulu merupakan manusia yang selalu menjadikan tangisan sebagai perhiasan dalam sholat-sholat mereka, do’a-do’a mereka dan dzikir-dzikir mereka.

Kalau perkara menangis sendiri banyak sekali faktor yang menyebabkannya. Ada yang kena PHK terus menangis , ada yang kena gusur terus menangis, ada yang hilang jabatan terus menangis, ada yang hilang harta terus menangis, ada yang tertipu terus menangis, ada yang terluka terus menangis, ada yang kehilangan nyawa terus menangis, ada juga yang terharu terus menangis , ada juga yang dapat harta benda terus menangis, dan lain sebagai. Singkatnya banyak hal yang menyebabkan seorang manusia bisa menangis apakah dia orang muslim atau orang kafir.

Namun diriwayatkan dalam sebuah hadits,”Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, dia tidak akan masuk neraka jahannam sebagaimana air susu tidak mungkin masuk kembali ke dalam puting susunya.”

Dalam hadits yang lain disebutkan,”Barang siapa menangis karena takut kepada Allah sehingga berlinangan air matanya dan air matanya membasahi tanah maka dia tidak akan diadzab pada hari kiamat.”

Sebuah mahfum hadits mengatakan bahwa api neraka jahannam diharaman kepada dua jenis mata :
1. Mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan
2. Mata yang berjaga pada malam hari untuk memelihara islam dan umatnya dari serangan orang-orang kafir.

Hadits lain juga menyebutkan bahwa api neraka jahannam diharamkan kepada mata yang pernah menangis karena takut kepada Allah, kepada mata yang berjaga pada malam hari di jalan Allah, mata yang tidak memandang sesuatu yang haram, dan kepada mata yang gugur di jalan Allah.

Maka bagi seorang muslim hendaknya sering menangis karena takut kepada Allah. Dibalik tangisan karena takut kepada Allah tersimpan berjuta hasanah kebaikan yang Allah sediakan kepada orang yang mengamalkannya. Allah SWT akan berikan rahmat-Nya, hati akan menjadi lembut dan muncul kasih sayang kepada umat. Sebaliknya orang yang tidak pernah menangis karena takut kepada Allah dihawatirkan hatinya keras dan Allah menjauhkan rahmat-Nya darinya. Dari Jarir r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barang siapa tidak diberi sifat lembut, berarti ia tidak diberi kebaikan.”(Hr. Muslim). Sahabat Rasulullah SAW yaitu Umar yang terkenal dengan “galak atau keras” dalam sholatnya pun sering sekali menangis bahkan ketika menjadi imam sholat pun menangis sehingga terdengar hingga ke belakang makmumnya, hal ini tentu saja karena rasa takut kepada Allah.

Begitu banyak kisah para nabi dan wali Allah apabila diceritakan tentang bagaimana mereka selalu menangis dalam kehidupan mereka hal ini seolah-olah tak bisa dipisahkan syarat untuk menjadi wali Allah adalah mudah dan sering menangis karena takut kepada Allah.

Dan tak bisa dipungkiri bagaimana kekasih Allah SWT, yaitu Rasulullah Muhammad SAW melewati malamnya dengan tangisan-tangisan sehingga dalam dada beliau seperti terdengar suara air yang bergolak karena mendidih. Bukan hanya takut kepada Allah, tetapi sekaligus mensyukuri nikmat yang Allah berikan, membaca dan merenungi atau memikirkan ayat-ayat Allah dan yang tak kalah penting adalah merisaukan umatnya. Sebagaimana diterangkan oleh ayat Alqur’an ” Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin ” (Q.S At-Taubah: 128). Bahkan ketika orang yahudi meninggal tanpa kalimat iman, Rasulullah pun meneteskan air matanya membayangkan bagaimana nanti orang yahudi tersebut akan disiksa di neraka Jahannam yang selama-lamanya. Begitu juga ketika beliau berda’wah ke tha’if dengan jalan kaki dengan penuh harapan dan semangat bahwa penduduk tha’if akan menerima islam, namun sesampai di tha’if Rasulullah SAW menerima perlakuan yang sangat kasar dan kejam, tidak hanya ditolak ajakan beliau sekaligus diejek, dihina dan diusir, tapi juga dilempari batu-batuan sehingga menyebabkan darah keluar dari tubuh beliau yang mulia, hingga menetes deras ke sandal beliau. Namun beliau berdo’a kepada Allah takut-takut Allah murka dengan keadaan beliau, tetapi Allah Maha Mengetahui maka Allah kirim malakat jibril beserta dua malaikat penjaga gunung yang diperintahkan oleh Allah untuk menaati perintah Rasulullah. Bahkan malaikat itu pun menawarkan kalau mau gunung di sekitar tha’if akan dihimpitkan diantara mereka atau tanah mereka diangkat dan dibalikkan ke muka bumi. Namun Rasulullah yang berhati lembut dan kasih sayang yang paham dengan perkara akhirat tentang surga dan neraka hanya berdo’a apabila mereka tidak mau memeluk islam semoga keturunan mereka mau memeluk islam.

Alim ulama telah jelaskan kenapa diri kita susah menangis diantaranya adalah tertutupnya hati kita dari hidayah Allah SWT dengan kesalahan kita sendiri. Banyak dari kita tidak bisa menjaga pandangan mata kita, banyak pula yang mencaci maki saudara, mengghibahnya bahkan memfitnahnya, makanan yang masuk ke dalam perut pun tidak tahu apakah ini benar-benar dari sumber yang halal. Kesombongan dari diri kita sendiri yang merasa sudah suci dan alim, bahkan mengatakan mereka yang banyak menangis kan memang banyak dosanya (na’udzu billah). Sehingga terlalu banyak noda hitam dalam hati kita yang sudah berkarat sehingga susah dibersihkan yang menyebabkan hati kita menjadi sekeras baja. Maka bagaimana kita hindarkan perbuatan kita dari yang demikian mari kita jaga pandangan kita, jaga lidah kita, jaga perut kita dan pikir kita, walaupun kita memang tak pernah berbuat dosa dan maksiat tetapi kita harus merasa banyak kekurangan dan dosa dalam diri kita sehingga Allah berikan sifat kelembutan dalam diri kita.

Salah satu cara yang paling berkesan agar kita menangis adalah bagaimana meniru perjuangan Rasulullah SAW, yaitu mengajak manusia ke jalan Allah dengan harta diri dan waktu kita dengan sungguh-sungguh, hingga hati ini merasa remuk ketika jumpa dengan manusia, dicaci, dihina, difitnah , dicurigai dan ditentang, sehingga malam hari kita adukan kepada Allah SWT dengan tetesan air mata dan do’a kita supaya Allah turunkan hidayah kepada orang yang menghina, mencaci, memfitnah, mencurigai dan menentang.

Ada cerita yang menarik dari seorang yang telah lama dalam usaha da’wah di Bandung yaitu abah Oto , ketika itu beliau sedang belajar da’wah selama 4 Bulan ke India , Pakistan dan Bangladesh. Ketika di Bangladesh beliau jumpa seorang penjual bumbu keliling (kalau di indonesia seperti bapak tukang sayur keliling) sedang niat untuk pergi keluar di jalan Allah ke negeri jauh maka penjual bumbu itu serahkan paspornya. Abah Oto pun terkesan dengan keadaannya yang sederhana dengan mata pencaharian yang tidak seberapa, bapak ini niat untuk negeri jauh yang membutuhkan biaya yang banyak. Abah Oto menjadi kaget dan seolah tak percaya ketika dibuka paspornya ternyata sudah 40 negara dia kunjungi untuk keluar di jalan Allah. Abah Oto ini tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana mungkin seorang yang hanya tukang jual bumbu bisa seperti ini. Abah Oto dengan rasa tak percaya menanyakan apa sebenarnya pekerjaannya, tukang bumbu itu pun jawab ya ini pekerjaan saya jualan bumbu. Abah Oto masih belum percaya dan terus menerus menanyakan pekerjaannya, tetapi tukang bumbu masih menjawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya karena mungkin agak kesal dengan Abah Oto yang terus menanyakan pekerjaannya maka tukang bumbu itu pun berkata ,” wahai bapak memang saya ini tukang bumbu, tapi Allah bukan tukang bumbu, cukup bangun jam 2 pagi, 2 rakaat shalat dan tetes air mata dari 2 mata.” Dengan jawaban itu Abah Oto mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sekali. Benar tidak ?

Maka kita niatkan lagi dan lagi belajar menangis dihadapan Allah SWT supaya Allah pilih diri kita dalam usaha da’wah Rasulullah dan Allah kirim kita, hantar kita ke seluruh alam dengan cara buat pengorbanan sebesar-besarnya hingga kita habis untuk agama Allah minimal luangkan waktu 4 bulan di jalan Allah. Insya Allah.

Iklan
Kategori:TARGHIB

Saya Petugas PLN “=” Saya Petugas Allah

Agustus 28, 2009 1 komentar

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda , “Sesungguhnya kalian berada pada zaman, yang jika diantara kalian meninggalkan sepersepuluh dari yang diperintah Allah, niscaya kalian binasa. Kemudian akan datang suatu zaman, siapa diantara mereka yang mengamalkan sepersepuluh dari apa yang diperintahkan, niscaya akan selamat.” (Tirmidzi – Misykatul Mashobih, hal 64).

Ini merupakan sedikit mudzakaroh dengan Amir jama’ah gerak dari Papua tentang amalan maqomi yaitu 2,5 jam silahturahmi setiap hari.

Amir katakan kenapa banyak pekerja da’wah yang malas atau takut untuk buat 2,5 jam silahturahmi, apalagi kalau yang akan didatangi adalah preman kampung, seorang pejabat, orang kaya, seorang ustadz, tokoh masyarakat, atau bahkan presiden ?. Maka karena kita belum bisa merasa seperti petugas PLN, lho kok ?

Amir bilang, “Coba lihat petugas PLN, dengan senang hati dia akan memasuki semua rumah yang menjadi tugasnya, tidak pandang bulu apakah itu rumah orang miskin atau orang kaya, rumah pejabat atau rakyat, rumah preman atau rumah ustadz, rumah presiden atau rumah umum, semua pasti didatangi untuk mengerjakan tugasnya yaitu mencatat meteran listrik. Dia tidak akan malu-malu karena merasa kalau instansi perusahaan PLN yang mengutusnya.”

Begitu juga seharusnya para pekerja da’wah kita harus merasa bahwa diri kita adalah petugasnya Allah SWT, setelah nabi Muhammad SAW wafat tidak akan ada nabi lagi maka tugas ini telah dibebankan kepada diri kita semua sebagai umat Rasulullah SAW. Tugas kita lebih penting dan lebih mulia daripada petugas PLN yang hanya mencatat meteran listrik (mohon maaf kepada petugas PLN jangan tersinggung ya) yaitu membawa perkara yang haq yaitu Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullaah. Kita juga tidak perlu malu-malu mendatangi rumah pejabat atau orang kaya , karena diri kita ini dihantar oleh Allah SWT untuk seluruh manusia. Dan perlu diingat kekuatan yang mengutus atau menghantar akan bersama dengan orang yang diutus atau dihantar.

Begitulah sedikit yang bisa saya sampaikan. semoga Allah mudahkan kita untuk istiqomahkan buat  2,5 jam silahturahmi setiap hari, serta menambah pengorbanan menjadi 8 jam setiap hari. Amiin

Kategori:MUDZAKAROH

Sekilas untuk Afrika Selatan

Agustus 27, 2009 1 komentar

Alhamdulillah awal Ramadhan Masjid di kampung saya kedatangan tamu Allah dari Papua dan santri dari Magelang selama 3 hari, tepatnya 4 orang dari Papua dan 7 santri Magelang, hari kedua ada satu orang mahasiswa POLTEK Telkom ikut gabung. Amirnya merupakan orang Sulawesi yang merantau di Papua.

Sedikit laporan dari Amir bahwa beliau pernah keluar ke negeri jauh tepatnya ke Afrika Selatan. Jumlah penduduk muslim waktu itu (ketika Amir sedang khuruj, nggak nyebutin tahunnya) sekitar 2 juta dari semua total penduduk Afrika Selatan. Tapi di sana hidup amalan agama, bahkan shalat subuh bisa mengalahkan shalat jum’at (karena waktu shalat jum’at, banyak yang shalat di sekitar tempat kerjanya, sedangkan subuh semua laki-laki ada di tempat tinggalnya).

Ketika Amir baru di jemput dari bandara dan dihantar ke Markas, setelah tiba di markas Amir tanya ” lho mana masjidnya ?”, kata orang tempatan, ” ya ini di depanmu.”, jawab Amir , ” lho ini kan gereja(ternyata benar gedungnya mirip gereja tapi lambang cross-nya sudah nggak ada).”, orang tempatan bilang, ” sekarang sudah kami beli dan jadi Masjid”. Amir pun melihat sendiri bagaimana di tempat-tempat umum seperti pasar, sekolah, mal, taman kota, dsb, terlihat jelas perbedaan siapa yang muslim dan non muslim, karena orang muslim mengamalkan sunnah berpakaian seperti Rasulullah SAW,  bahkan wanitanya menutup aurat juga bercadar. Amir juga sempat mendatangi Makassar City yang merupakan perjuangan oleh ulama Syaikh Yusuf dari Makassar.

Dan Amir bilang, Afrika Selatan sudah mulai mengirim jamaah negeri jauh ke seluruh negara setiap tahunnya, jadi minimal lebih dari 200 jamaah yang dihantar ke negeri jauh ke seluruh dunia.

Begitulah apabila usaha agama dijalankan maka Allah berikan kekuatan untuk amalkan agama walaupun di negeri kafir, tapi sebaliknya apabila usaha agama ditinggalkan maka akan terasa berat mengamalkan agama walaupun di negeri muslim.

INSYA ALLAH NIAT PERGI KE SELURUH ALAM

Kategori:LAPORAN DA'WAH