Beranda > KISAH SAHABAT > Hayatush shahabat // pembaca: Ust.Ghazali Khamis, 29 Dzulqa’dah 1429 // 27 November 2008

Hayatush shahabat // pembaca: Ust.Ghazali Khamis, 29 Dzulqa’dah 1429 // 27 November 2008

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari rah.a, dari shahabat Ibnu Umar r.a berkata bahwa ayah saya, Umar r.a, adalah seseorang yang sering mengatakan, “Sepertinya ini ….”. Dan prasangkanya tersebut biasanya tepat.

Suatu ketika seorang shahabat lewat di hadapan Umar r.a. Maka Amirul Mukminin berkata, “Sepertinya orang itu adalah seorang dukun di masa jahiliyahnya. Coba kamu panggil shahabat tersebut.” Maka aku memanggil shahabat tersebut dan membawanya ke hadapan Amirul Mukminin, Umar r.a.
Umar r.a berkata, “Wahai shahabat, sepertinya kamu adalah seorang dukun di masa yang lalu…” Maka mendengar perkataan Umar r.a, shahabat itu marah dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, semenjak aku memeluk islam, belum ada orang yang datang dan menyambutku dengan berkata seperti itu..” Maka Umar r.a berkata, “Tenang wahai shahabatku, aku tidak bermaksud demikian. Cobalah engkau ceritakan kepada kami, pengalaman apa yang paling berkesan ketika engkau menjadi seorang dukun di zaman jahiliyah dulu…”
Maka shahabat r.a tersebut berkata, “Pengalamanku yang paling berkesan yaitu ketika bersama Jin yang selalu membantuku. Suatu ketika, Jin tersebut datang menjumpaiku. Jin itu berkata,” Wahai tuanku, dari dahulu kami kaum jin selalu bebas berterbangan ke langit untuk mencuri berita-berita dari langit dan menyampaikannya kepada para manusia. Tapi pada hari ini aku telah melihat para Jin telah pergi menaiki unta-unta putih mereka untuk menuju ke kota Makkah karena disana telah diutus seorang Nabi. Cobalah tuanku berangkat untuk mencari berita yang terjadi di sana.”

Di dalam riwayat yang lain dikatakan, Umar r.a berkata, “Sepertinya engkau adalah seorang dukun ketika masih dalam keadaan jahiliyah.” Maka Shahabat tersebut tidak senang dan berkata, “Tidak ada orang yang datang dan mengatakan seperti perkataanmu tadi semenjak aku memeluk islam.” Maka Amirul Mukminin berkata, “Bukan itu maksudku, Engkau pasti tidak menyukai kesyirikan yang pernah engkau kerjakan. Cobalah engkau ceritakan kepada kami pengalaman yang paling berkesan ketika engkau menjadi dukun dimasa lalumu…”
Maka shahabat r.a itu berkata, “Suatu malam ketika aku hendak tidur, maka datanglah Jin yang selalu membantu pekerjaan-pekerjaan ku sambil menendang badanku. Jin tersebut berkata, “Tuanku bangunlah..! Semenjak dulu, kami para kaum Jin selalu pergi ke langit untuk mencuri berita-berita dari sana. Tapi pada hari telah kulihat kaumku dengan menaiki unta-unta putih mereka beserta bekal-bekal mereka telah pergi menuju kota Makah. Bangunlah engkau dan pergilah ke sana untuk mencari tahu apa berita yang terjadi.” Maka aku berkata kepada Jinku itu, “Tunggulah hingga esok hari. Malam ini aku ingin istirahat karena telah bekerja seharian.”
Esok hari ketika aku hendak tidur, Jin ku itu datang kembali menjumpaiku. Ia berkata, “Tuanku bangunlah… Hari ini telah kulihat kaumku pergi menaiki unta-unta putih mereka dan berangkat menuju kota Makkah. Disana telah diutus seorang nabi untuk mengajak manusia menyembah kepada Allah. Cobalah engkau pergi ke sana untuk mencari tahu apa yang telah terjadi disana. Maka aku berkata, “Tunggulah hingga esok hari. Malam ini aku ingin istirahat karena telah bekerja seharian.”
Pada malam yang ketiga, Jin tersebut telah datang kembali dan membangunkanku. Ia berkata, “Tuanku bangunlah… Hari ini telah kulihat kaumku menaiki unta-unta putih mereka dan berangkat pergi ke kota Makkah. Cobalah engkau pergi ke sana untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.”

Maka malam itu aku bangkit dari tempat tidurku dan menyiapkan perbekalan untuk pergi ke kota Makkah. Aku lalu berangkat dan tiba di kota Makkah. Di sana aku melihat Rasulullah saw dalam suatu majelis bersama para shahabat, lalu aku duduk didalam majelis tersebut. Setelah majelis selesai, aku mendekati Rasulullah saw dan bersyahadat kepada beliau. Lalu aku menceritakan kepada beliau bagaimana aku bisa datang ke kota Makkah ini. Mendengar ceritaku, Rasulullah saw tersenyum bahagia begitu juga para shahabat r.hum yang ada di dalam majelis tersebut.”

Lalu Amirul Mukminin, Umar r.a bertanya, “Setelah peristiwa itu, bagaimana keadaan Jin yang selalu membantumu..?” Maka aku berkata, “Semenjak kejadian tersebut, aku tidak pernah lagi melihat Jin yang selalu membantuku itu. Tapi semenjak itu pula aku telah mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada Jin ku tersebut. Ia adalah Alqur’an, kitab yang berisi segala sesuatu menyangkut masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Yang dapat menyelamatkan kehidupanku ini.”

Khamis, 29 Dzulqa’dah 1429 // 27 November 2008
Hayatush shahabat // pembaca: Ust.Ghazali
Masjid Al Madinah
Antapani- Bandung – Jawa Barat

*maaf, ada beberapa perkataan yang saya lupa jadi tidak saya cantumkan.

bonus bayan….:

Suatu ketika, penduduk surga akan dihebohkan dengan suatu sinar yang lebih terang daripada sinar matahari. Maka penduduk surga terheran-heran, bukankah di surga tidak ada matahari. Lalu mereka bertanya, “Sinar apakah itu..?” Maka mereka diberitahukan, bahwa itu adalah sinar yang berasal dari sepasang suami istri. Mereka sedang asyik berbincang-bincang dan ketika itu suaminya tersenyum sehingga kelihatanlah giginya. Maka sinar itu berasal dari giginya tersebut.

Di dalam surga, sepasang suami istri akan saling bersuap-suapan, suami menyuapi istrinya dan istrinya menyuapi suaminya. Dan rasa yang mereka makan tergantung dari apa yang mereka bayangkan. Kalau mereka membayangkan buah-buahan, maka rasanya adalah buah-buahan pula. Bahkan kalau mereka membayangkan rasa sate, maka rasa sate pulalah yang mereka rasakan.

Dan hal ini akan terjadi apabila suami mengajak juga istrinya untuk taat kepada Allah dan menda’wahkan agama. Apabila sang suami hanya shaleh sendirian, ketika da’wh tidak melibatkan istrinya, maka jangan harap istrinya akan menemaninya di dalam surga. Apabila sang istri menjadi partner sang suami dalam berda’wah, maka insyaAllah mereka akan bersama-sama di dalam surga.
Apakah para kaum lelaki ingin masuk surga sendirian atau bersama-sama istrinya…?
Maka libatkanlah para istri kita dalam berda’wah dengan membuat amalan-amalan agama di dalam rumah kita. Sehingga rumah kita menjadi asbab hidayah untuk seluruh alam

oleh Arif Budiman Al Dumayyi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: